Tersesat

Derap kalam berdesis
Sepertiga kesunyian hampa
Aku terjaga dalam buta
Sesak mendobrak bendungan air mata
Membanjiri tanah kering meronta
Namun hanya sekedar basah
Mencari ujung jalan tak berasal
Aku tersesat tanpa alamat
Kaki terseok tapi terus berlari
Aku tuli dengan deru bisikan itu
Menyebrang tanpa menoleh
Kau biarkan aku mengejar umpan jebakan
Tetes demi tetes
Tapi bukan salah darah dalam nadi
Ini konspirasi nafsu dan naluri
Entah ini tikungan ke berapa
Lariku tak melambat
Walau tapak penuh darah
Merah menumpuk hitam
Cukuplah waktu bergulir sia-sia
Percumakah kusebut nama-Mu
Jalanku tak bercabang
Aku terjebak dalam lintasan kuda
Berharap ada pintu terbuka
dan menemukan padi yang tumbuh dari airku
Comments
Post a Comment