Aku Bodoh dan Aku Bangga

setetes ilmu

 

Tak perlu sungkan untuk sedikit berkomentar mengenai judul yang sedikit bodoh di atas, apalagi gambar yang mungkin sekarang belum nyambung dengan judulnya. Tak perlu juga merasa bodoh apalagi dibodohi penulis bodoh dengan membaca tulisan yang tidak mempunyai efek pada peningkatan kebodohan ini. Yang kita perlukan sekarang adalah pikiran yang terbuka untuk menerima apa yang ada.

Berkaitan dengan judul di atas, rasanya kalimat itu secara rasional tidak akan terucap di mulut ataupun sekedar terlintas di pikiran kita. Bahkan, kita malu dengan adanya kebodohan tersebut. Ditinjau dari sudut tertentu, tidakkah mind frame seperti itu akan merugikan kita? Mari kita bahas bersama!

Jika kita malu ketika kita bodoh dan berusaha menutupi kebodohan itu pada orang lain, maka hal itu dapat menghambat penuntasan kebodohan kita. Rasa malu akan kebodohan tersebut akan membuat kebodohan tersebut tidak terdeteksi. Tentu saja hal ini berimplikasi pada tidak ditemukannya solusi untuk membenahi kebodohan yang bahkan tidak jelas kondisinya itu.

Analisa kasar di atas setidaknya tercermin dalam kegiatan pembelajaran kita. Masih ingat bagaimana rasanya duduk di bangku sekolah? Saat menjalani aktivitas dengan seragam dulu mungkin kita tidak ingin dibilang bodoh oleh teman ataupun guru. Secara ekstrim sifat tersebut membuat kita takut untuk melakukan segala sesuatu yang dapat menguak kebodohan kita, seperti menanyakan sesuatu, menyanggah, membela, atau sekedar mengkritik suatu permasalahan.

Terkadang ketika kita melakukan hal-hal  tersebut kita terlihat  bodoh dan bahkan ditertawakan teman-teman kita. Namun, ingatlah konsekuensi tersebut hanya berlangsung beberapa detik. Setelah proses singkat tersebut kebodohan yang kita ungkapkan akan sirna selama-lamanya. Dan mereka para penertawa yang bahkan tidak merasa belum tentu lebih pintar dari kita akan melupakan kebodohan saesaat kita.

Akui sajalah, kita sesungguhnya memang benar-benar bodoh. Hanya Dialah yang Maha Mengetahui. Kita tahu bahwa seandainya setiap pohon di dunia menjadi pena, dan seluruh lautan dijadikan tinta, bahkan dengan tujuh kali-lipatnyapun, maka belumlah cukup untuk mencatat seluruh ilmu-Nya. Lantas masihkah pantas bersombong-ria dengan kebodohan kita? Padahal Ar-Rabi' bin Anas berkata, "Sesungguhnya perumpamaan seluruh pengetahuan manusia di dalam ilmu Allah adalah seperti setetes air lautan dengan lautan tersebut, wallahu a'lam."

Akhir kata, saya tidak menyimpulkan wacana ini dengan memberi saran untuk mengoar-koarkan judul di atas dengan bodohnya. Tapi ini tentang bagaimana kita berusaha untuk mengidentifikasi kebodohan, memunculkannya di permukaan, dan mencari solusi penumpas kebodohan itu - untuk lautan ilmu yang lebih luas.

sumber:

Q.S. Luqman 27

Tafsir Ibnu Katsir juz 21 Volume 6 hal: 411

lutugo.blogspot.com

Comments

  1. hm, contoh solusi konkret nya apa gan? ^^

    ReplyDelete
  2. kalo dulu ane pas pelajaran matek ama fisika sering maju noh. padahal ga bisa juga, pas lg ngerjain di depan sering mandek dan balik lagi. Nah, karena malu ga bisa ngerjain di depan ane jadi lebih serius merhatiin dan pengen belajar lebih. mungkin itu contoh pengungkapan kebodohan ane, hehe ada sarankah gan?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!