Harga Mahal Senyuman
Hanya ada dua kejadian yang membuat orang tersenyum bahagia di rumah sakit. Pertama, ketika bayi lahir, walaupun bayi itu menangis. Kedua, bila pasien telah sembuh, walaupun setelah itu ia harus membayar biaya rumah sakit yang mahal.
Bagaimana dengan wajah sedih? Jangan ditanya. Hampir setiap saat kita akan menemukan raut muka redup. Di lorong, apotik, kamar pasien, ruang operasi, ruang tunggu, UGD, ruang periksa, loket, setiap orang menampilkan ekspresi tak jauh dari sedih, muram, pucat, cemas, dan takut. Bahkan mungkin beberapa menangis tersedu-sedu. Walaupun belum tentu mereka yang sakit. Beban yang sakit juga ikut ditanggung oleh mereka yang terkait: tetangga, keluarga, kerabat dekat, teman, relasi kerja, atau bahkan petugas yang menangani pasien sakit tersebut.
Sehat dan sakit, bagaimanapun juga Allah yang menentukannya. Namun tentu kita punya peran dalam setiap skenario-Nya. Kesempatan sehat seharusnya dapat dimanfaatkan dengan memaksimalkan kegiatan yang bermanfaat. Tak ada yang tahu kapan kesempatan itu berakhir. Sakit pun harus dihadapi dengan lapang dada. Ada hikmah di balik semua ujian.
Nikmat sehat akan begitu terasa berharga bagi mereka yang sakit. Sepiring nasi warung akan terasa lebih lezat ketika sehat dibanding sepaket menu restoran berkelas saat sakit. Menghirup udara sejuk akan terasa menyegarkan dibanding menyedot oksigen lewat selang. Berjalan merasakan kerikil jalan terasa menyenangkan dibanding melaju di kursi roda. Senyum riang mereka yang sehat jauh lebih indah dibanding wajah murung mereka yang sakit.
Tapi sayang kesadaran nikmat itu sering kali muncul hanya ketika kita telah terlanjur sakit. Rasa syukur atas kesehatan yang luar biasa itu butuh kesengsaraan sebagai pemacu. Sampai kita tak berdaya, kesempatan untuk melakukan berbagai hal bermanfaat menjadi terbuang sia-sia. Padahal Rasul telah mengingatkan kita untuk selalu menjaga lima perkara, sebelum datangnya lima perkara. Aku tahu persis salah satunya adalah sehat sebelum sakit.
Beberapa hari ini hal-hal inilah yang kurenungkan. Menurutku, sakit juga termasuk nikmat sekaligus ujian yang perlu disyukuri. Sakit memberiku kesadaran akan berharganya kesehatan. Namun, saat sehat aku cenderung lupa akan nikmat yang luar biasa itu. Semoga sakit ini menjadi cambuk untuk lebih bisa bersyukur, menjaga dan memanfaatkan kesempatan sehatku. Sebelum sakitku.
Aku tak ingin menambah wajah sedih itu. Membayar mahal harga senyuman.
Bagaimana dengan wajah sedih? Jangan ditanya. Hampir setiap saat kita akan menemukan raut muka redup. Di lorong, apotik, kamar pasien, ruang operasi, ruang tunggu, UGD, ruang periksa, loket, setiap orang menampilkan ekspresi tak jauh dari sedih, muram, pucat, cemas, dan takut. Bahkan mungkin beberapa menangis tersedu-sedu. Walaupun belum tentu mereka yang sakit. Beban yang sakit juga ikut ditanggung oleh mereka yang terkait: tetangga, keluarga, kerabat dekat, teman, relasi kerja, atau bahkan petugas yang menangani pasien sakit tersebut.
Sehat dan sakit, bagaimanapun juga Allah yang menentukannya. Namun tentu kita punya peran dalam setiap skenario-Nya. Kesempatan sehat seharusnya dapat dimanfaatkan dengan memaksimalkan kegiatan yang bermanfaat. Tak ada yang tahu kapan kesempatan itu berakhir. Sakit pun harus dihadapi dengan lapang dada. Ada hikmah di balik semua ujian.
Nikmat sehat akan begitu terasa berharga bagi mereka yang sakit. Sepiring nasi warung akan terasa lebih lezat ketika sehat dibanding sepaket menu restoran berkelas saat sakit. Menghirup udara sejuk akan terasa menyegarkan dibanding menyedot oksigen lewat selang. Berjalan merasakan kerikil jalan terasa menyenangkan dibanding melaju di kursi roda. Senyum riang mereka yang sehat jauh lebih indah dibanding wajah murung mereka yang sakit.
Tapi sayang kesadaran nikmat itu sering kali muncul hanya ketika kita telah terlanjur sakit. Rasa syukur atas kesehatan yang luar biasa itu butuh kesengsaraan sebagai pemacu. Sampai kita tak berdaya, kesempatan untuk melakukan berbagai hal bermanfaat menjadi terbuang sia-sia. Padahal Rasul telah mengingatkan kita untuk selalu menjaga lima perkara, sebelum datangnya lima perkara. Aku tahu persis salah satunya adalah sehat sebelum sakit.
Beberapa hari ini hal-hal inilah yang kurenungkan. Menurutku, sakit juga termasuk nikmat sekaligus ujian yang perlu disyukuri. Sakit memberiku kesadaran akan berharganya kesehatan. Namun, saat sehat aku cenderung lupa akan nikmat yang luar biasa itu. Semoga sakit ini menjadi cambuk untuk lebih bisa bersyukur, menjaga dan memanfaatkan kesempatan sehatku. Sebelum sakitku.
Aku tak ingin menambah wajah sedih itu. Membayar mahal harga senyuman.
Comments
Post a Comment