Ular, Ayam, atau Ulat
Aku duduk bersandar di teras rumah. Menatap rembulan gompal yang kemarin diperdebatkan kemunculnya. Cahaya redupnya menyinari separuh tubuhku. Ia lama telah menggantung di atas sana dan menjadi saksi bisu atas waktu yang penuh berkah, setidaknya sekali dalam 12 fase perputarannya.
Kuhela nafas setelah sibuk menerima sekian banyak yang berkunjung. Semoga kegiatan hiruk pikuk lebaran ini bukan hanya sekedar tradisi tahunan belaka, namun menjadi sebuah media silaturrahim yang membawa rahmat. Semoga tak ada batu yang mengganjal di pintu maaf dan keikhlasan bukan hanya menjadi pemanis mulut belaka.
Sudah tiga hari ramadhan telah pergi. Entah apakah ramdhan kali ini memberikan pengaruh berarti padaku, atau setidaknya membekas.
Ketika hendak melepas ramadhan, guruku pernah memberiku sebuah pelajaran. Dalam menjalani hidup, bukan hanya manusia saja yang berpuasa, namun juga hewan. Ia menjelaskan tiga hewan yang berpuasa dan perubahan setelahnya.
Ular berpuasa ketika akan berganti kulit. Ia sahur dengan memburu mangsa sebagai pengganjal perut. Dengan laparnya ia berkelit di sesemak untuk berganti kulit. Ia baru berbuka setelah bisa memamerkan kulit barunya. Secara fisik, setelah berpuasa hanya kulitnyua saja yang berubah. Ular tetaplah ular. Ia tetap menjadi hewan buas dan kembali berburu mangsa.
Selain itu ayam juga berpuasa ketika mengerami telurnya. Ia tak akan makan sampai telurnya menetas. Ia hanya berpikir bagaimana memberikan rasa aman untuk buah hatinya. Walaupun tak ada perubahan pada dirinya setelah berpuasa, setidaknya ia bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk anaknya. Ia membantu anaknya untuk berubah menuju jenjang yang lebih sempurna.
Dan yang terakhir adalah ulat. Sebelum berpuasa ulat adalah hewan yang menjijikkan dan merugikan. Ia memakan dedaunan dan merusak tanaman. Namun dengan sabar ia berpuasa dan menjadi kepompong. Tapi siapa sangka setelah keluar dari kerungkupnya ia berubah menjadi makhluk yang luar biasa indahnya.
Kukira tidaklah sulit memahami analogi ketiga hewan tersebut. Selanjutnya tinggal menentukan sebuah pilihan bagi kita – ingin jadi ular, ayam, atau ulat. Ada sebuah lagu abak-anak yang menanyakan mengapa kita harus berlapar-lapar puasa. Tentunya kita tak ingin menjawab dengan jawapan kosong. Pengorbangan yang kita lakukan harusnya membuahkan hasil yang setimpal.
Kita mengerti bahwa proses puasa itu sendiri diorientasikan untuk meningkatkan ketakwaan. Namun apakah kita benar-benar sanggup untuk menjadi muttaqin – seperti yang dicontohkan umat terdahulu? Layaknya ibadah mahdzah lain, kita diseru dangan panggilan aamanuu. Namun apakah iman kita yang labil ini bisa memanfaatkan kesempatan yang berharga ini?
Satu-dua kali awan lewat – menghalangi cahaya redup yang menerpa wajahku. Tak ada yang bisa menjamin tahun depan aku dapat dapat melihat bulan itu lagi. Namun aku selalu berharap agar nanti aku bisa lebih siap menyambutnya. Aku tak ingin mengecewakan kedatangannya (lagi).
sumber:
- Q.S. Al-Baqarah 183-185
- pidato pak Ahmad (MAN IC)
Kuhela nafas setelah sibuk menerima sekian banyak yang berkunjung. Semoga kegiatan hiruk pikuk lebaran ini bukan hanya sekedar tradisi tahunan belaka, namun menjadi sebuah media silaturrahim yang membawa rahmat. Semoga tak ada batu yang mengganjal di pintu maaf dan keikhlasan bukan hanya menjadi pemanis mulut belaka.
Sudah tiga hari ramadhan telah pergi. Entah apakah ramdhan kali ini memberikan pengaruh berarti padaku, atau setidaknya membekas.
Ketika hendak melepas ramadhan, guruku pernah memberiku sebuah pelajaran. Dalam menjalani hidup, bukan hanya manusia saja yang berpuasa, namun juga hewan. Ia menjelaskan tiga hewan yang berpuasa dan perubahan setelahnya.
Ular berpuasa ketika akan berganti kulit. Ia sahur dengan memburu mangsa sebagai pengganjal perut. Dengan laparnya ia berkelit di sesemak untuk berganti kulit. Ia baru berbuka setelah bisa memamerkan kulit barunya. Secara fisik, setelah berpuasa hanya kulitnyua saja yang berubah. Ular tetaplah ular. Ia tetap menjadi hewan buas dan kembali berburu mangsa.
Selain itu ayam juga berpuasa ketika mengerami telurnya. Ia tak akan makan sampai telurnya menetas. Ia hanya berpikir bagaimana memberikan rasa aman untuk buah hatinya. Walaupun tak ada perubahan pada dirinya setelah berpuasa, setidaknya ia bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk anaknya. Ia membantu anaknya untuk berubah menuju jenjang yang lebih sempurna.
Dan yang terakhir adalah ulat. Sebelum berpuasa ulat adalah hewan yang menjijikkan dan merugikan. Ia memakan dedaunan dan merusak tanaman. Namun dengan sabar ia berpuasa dan menjadi kepompong. Tapi siapa sangka setelah keluar dari kerungkupnya ia berubah menjadi makhluk yang luar biasa indahnya.
Kukira tidaklah sulit memahami analogi ketiga hewan tersebut. Selanjutnya tinggal menentukan sebuah pilihan bagi kita – ingin jadi ular, ayam, atau ulat. Ada sebuah lagu abak-anak yang menanyakan mengapa kita harus berlapar-lapar puasa. Tentunya kita tak ingin menjawab dengan jawapan kosong. Pengorbangan yang kita lakukan harusnya membuahkan hasil yang setimpal.
Kita mengerti bahwa proses puasa itu sendiri diorientasikan untuk meningkatkan ketakwaan. Namun apakah kita benar-benar sanggup untuk menjadi muttaqin – seperti yang dicontohkan umat terdahulu? Layaknya ibadah mahdzah lain, kita diseru dangan panggilan aamanuu. Namun apakah iman kita yang labil ini bisa memanfaatkan kesempatan yang berharga ini?
Satu-dua kali awan lewat – menghalangi cahaya redup yang menerpa wajahku. Tak ada yang bisa menjamin tahun depan aku dapat dapat melihat bulan itu lagi. Namun aku selalu berharap agar nanti aku bisa lebih siap menyambutnya. Aku tak ingin mengecewakan kedatangannya (lagi).
sumber:
- Q.S. Al-Baqarah 183-185
- pidato pak Ahmad (MAN IC)
Comments
Post a Comment