Salahkah Kita Bermimpi
Ingatkah kalian saat masih TK? Kita ditanya ingin menjadi apa kelak. Dengan antusias dan penuh keyakinan kita menyebutkan jawaban: Dokter, Insinyur, Pemain bola, Pilot, Menteri, Bahkan Presiden. Ringan sekali mengatakannya bukan? Seakan-akan begitu mudah kita meraihnnya. Bukan hanya mereka-reka dalam gelap, tapi kita berani menerjang masa depan yang penuh misteri.
Bagaimana dengan sekarang? jika ditanya lagi seperti itu mungkin kita hanya menjawab ingin jadi orang bermanfaat, berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Tanpa rasa merendahkan, tukang sapu pinggir jalan pun memenuhi kriteria trersebut bukan? Tapi tentu bukan itu keinginan kita. Lalu ke manakah keberanian kita untuk menerawang masa depan itu?Bukankah kita semakin punya daya? Tetapi angan-angan kita begitu mudahnya menguap. Kita menjadi pengecut. Jangankan untuk menyongsong impian, memimpikannya pun tak berani.
Seiring bertambahnya usia, kita menghadapi sesaknya kehidupan yang mengikis mimpi secara drastis. Dengan dalih mengikuti aliran air kita mencari tujuan aman yang miris. Mencoba berpikir realistis tapi sesungguhnya pesimis. Seakan tak percaya bahwa tangan tak terlihat-Nya mampu menggiring kita menuju jalan impian fantastis.
Tahukah kalian mengapa lebah bisa terbang? Karena punya sayap. Mungkin alasan tersebut sedikit bisa kita terima. Namun tidak bagi para ahli fisika. Menurut ilmu aerodinamis lebah tidak mungkin bisa terbang. Sayapnya yang mungil, tipis, dan mengepak tak teratur itu mestinya tak mampu mengangkat tubuhnya yang gembul. Tapi nyatanya kita dapat melihat sendiri kuasa-Nya.
Lebah tidak mengetahui bahwa ia tak bisa terbang. Mereka hanya berusaha mengepakkan sayapnya-berjuang mati-matian menerobos hukum alam yang tak bersahabat. Mereka yakin dengan kerja keras dan pertolongan-Nya mereka dapat melakukan apa yang mereka mau.
Semestinya kita belajar dari mereka. Tentu kita tak mengetahui apa jadinya masa depan. Tapi tak seharusnya itu meng-gembosi kita untuk mengukir masa depan. Bukankah kita mengaku sebagai makhluk yang lebih sempurna dari lebah? Bukankah kita memahami bahwa dengan Kun fayakun Dia mampu menjadikan apapun yang dikehendaki-Nya? Lalu, salahkah kita bermimpi?
Saat menulis ini, bintang-bintang masih mengedipkan sinarnya. Entah ini malam ke berapa setelah aku melewati masa kanak-kanak. Masa di mana sejuta impian kuangankan. Lalu aku menggantungkannya di langit bersama bintang. Sinarnya tak kalah terang. Aku hanya tersenyum melihatnya. Berharap suatu saat dapat meraihnya. Yakin.
Sources:
QS.Yaassiin:82
http://ssicommunity.com/tahukah-anda/2140-lebah-seharusnya-tidak-bisa-terbang-.html
Bagaimana dengan sekarang? jika ditanya lagi seperti itu mungkin kita hanya menjawab ingin jadi orang bermanfaat, berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Tanpa rasa merendahkan, tukang sapu pinggir jalan pun memenuhi kriteria trersebut bukan? Tapi tentu bukan itu keinginan kita. Lalu ke manakah keberanian kita untuk menerawang masa depan itu?Bukankah kita semakin punya daya? Tetapi angan-angan kita begitu mudahnya menguap. Kita menjadi pengecut. Jangankan untuk menyongsong impian, memimpikannya pun tak berani.
Seiring bertambahnya usia, kita menghadapi sesaknya kehidupan yang mengikis mimpi secara drastis. Dengan dalih mengikuti aliran air kita mencari tujuan aman yang miris. Mencoba berpikir realistis tapi sesungguhnya pesimis. Seakan tak percaya bahwa tangan tak terlihat-Nya mampu menggiring kita menuju jalan impian fantastis.
Tahukah kalian mengapa lebah bisa terbang? Karena punya sayap. Mungkin alasan tersebut sedikit bisa kita terima. Namun tidak bagi para ahli fisika. Menurut ilmu aerodinamis lebah tidak mungkin bisa terbang. Sayapnya yang mungil, tipis, dan mengepak tak teratur itu mestinya tak mampu mengangkat tubuhnya yang gembul. Tapi nyatanya kita dapat melihat sendiri kuasa-Nya.
Lebah tidak mengetahui bahwa ia tak bisa terbang. Mereka hanya berusaha mengepakkan sayapnya-berjuang mati-matian menerobos hukum alam yang tak bersahabat. Mereka yakin dengan kerja keras dan pertolongan-Nya mereka dapat melakukan apa yang mereka mau.
Semestinya kita belajar dari mereka. Tentu kita tak mengetahui apa jadinya masa depan. Tapi tak seharusnya itu meng-gembosi kita untuk mengukir masa depan. Bukankah kita mengaku sebagai makhluk yang lebih sempurna dari lebah? Bukankah kita memahami bahwa dengan Kun fayakun Dia mampu menjadikan apapun yang dikehendaki-Nya? Lalu, salahkah kita bermimpi?
Saat menulis ini, bintang-bintang masih mengedipkan sinarnya. Entah ini malam ke berapa setelah aku melewati masa kanak-kanak. Masa di mana sejuta impian kuangankan. Lalu aku menggantungkannya di langit bersama bintang. Sinarnya tak kalah terang. Aku hanya tersenyum melihatnya. Berharap suatu saat dapat meraihnya. Yakin.
Sources:
QS.Yaassiin:82
http://ssicommunity.com/tahukah-anda/2140-lebah-seharusnya-tidak-bisa-terbang-.html
Comments
Post a Comment