Larutan Asmara
Masih tersisa… Kopi pahit yang tak kau minum habis. Kau tinggalkan secangkir larutan prasangka yang mendingin. Lalu perlahan-lahan mengendap dalam gumpalan rasa curiga. Ada apa denganmu? Syahdan, aku masih duduk di bangku pojok cafe . Tempat yang sama ketika dulu kita pertama bertemu. Tak kutemukan titik kesudahan dari percakapan yang kau mulai tadi. Tapi kau sudah pergi tanpa penjelasan. Kata orang air yang menggenang mudah menimbulkan penyakit. Bayangkan saja bagaimana rasa sakitku karena tak dapat mengalirkan resah. Kau selalu menuntut tanpa pernah mengerti aku yang carut marut. Lalu mesti ke mana gundah ini bermuara? Masih ada… Bekas bibirmu yang tertempel pada tepi beling. Bibir yang pernah mengecup manis di ujung kening. Tapi kini tanpa segan ia mengelupas, tak ada lagi ketulusan yang merekatkanya. Terlebih setelah keluar ucapanmu yang begitu menyakitkan. Ahh… tapi tidak ada istilah rasional dalam cinta. Satu tambah satu tak selalu berujung dua. Berapakalipun kau sayatkan luka, p...